27/08/2015
Dwelling Time dan Permasalahannya
Menurut definisi World Bank (2011), pengertian dwelling
time adalah waktu yang dihitung mulai dari suatu petikemas (kontainer)
dibongkar dan diangkat (unloading ) dari kapal sampai petikemas tersebut
meninggalkan terminal pelabuhan melalui pintu utama.
Proses dwelling time di pelabuhan terbagi atas tiga tahap,
yaitu ; pre-clearance, customs clearance, dan post-clearance. Tiap tahapan
berbeda institusi yang menanganinya.
Pre-clearance adalah proses peletakan petikemas di
tempat penimbunan sementara (TPS) di pelabuhan dan penyiapan dokumen
pemberitahuan impor barang (PIB).
Customs clearance adalah proses pemeriksaan fisik
petikemas (khusus untuk jalur merah), lalu verifikasi dokumen-dokumen oleh Bea
Cukai dan pengeluaran surat persetujuan pengeluaran barang (SPPB).
Kegiatan post clearance adalah saat petikemas
diangkut ke luar kawasan pelabuhan dan pihak pemilik petikemas melakukan
pembayaran ke operator pelabuhan.
Jadi, lamanya dwelling time adalah hasil penjumlahan
dari komponen pre-clearance , customs
clearance , dan post-clearance. Angka dwelling time kita rata-rata 5,5
hari. Contoh angka dwelling time di beberapa negara ; Thailand ; 4 hari, Malaysia
; 3 hari dan Singapura ; 1,5 hari.
Faktor lamanya dwelling time bisa jadi karena masih kurang maksimalnya pelayanan dari instansi terkait, tetapi bisa juga diakibatkan karena adanya faktor lain, misalnya lalainya importir dalam mengurus perijinan pendukung impor yang disyaratkan dalam HS code yang digunakan. Misalnya dalam HS code mensyaratkan bahwa komoditi yang diimpor memerlukan perijinan dari BPOM atau Kemendag. Dalam hal perijinan tersebut seharusnya dilengkapi sebelum barang tiba di pelabuhan, tetapi kadangkala barang sudah tiba di pelabuhan tetapi perijinan belum diurus. Dalam kasus tersebut, proses customs clearance pasti baru dilaksanakan setelah perijinan selesai diurus.
Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan semua pihak, tentunya diperlukan kerjasama lintas sektor, baik dari pemerintah melalui instansi terkait dalam membuat kebijakan dan para pengusaha sebagai user.
Demikian sekedar untuk menambah informasi yang sudah ada.
Subscribe to:
Comments (Atom)
ARTIKEL 33
-
Pohon tidak sekedar tumbuhan yang hidup dan menjadi penghasil oksigen untuk bernafas mahkluk hidup, tetapi cara dan bagaimana dia tumbuh, s...
-
Angka Pengenal Importir (API) API adalah tanda pengenal sebagai importir yang harus dimiliki setiap perusahaan yang melakukan kegia...
-
TATA CARA IMPOR BARANG Tata cara impor barang di Indonesia adalah sebagai berikut: Importir mencari supplier barang (eksport...
-
Kami ingin menyambut pagi hari dengan segala keterlambatan kami, kami ingin menatap siang dengan segala kepayahan kami dan kami tetap ingi...
-
EX-WORKS artinya pihak penjual (eksportir) menentukan tempat pengambilan barang. Tanggung jawab penjual hanya sampai tempat yang telah disep...
-
Aceh, yang termasuk salah satu wilayah NKRI sangat identik dengan kopi. Karena itulah, kedai kopi banyak kita temui di berbagai peloso...
-
Shipping document adalah seluruh dokumen yang dibutuhkan untuk kepentingan ekspor/impor. Dokumen tersebut meliputi wesel (bill of exchange),...
-
Berikut adalah peralatan dan urutan cara menanam kangkung di botol plastik bekas air mineral. Ini adalah hasil dari uji coba saya dan telah...
-
FOB (free on board) artinya adalah bahwa pihak penjual (eksporter) hanya bertanggung jawab sampai hanya saat barang tiba diatas kapal (telah...
-
Yang dimaksud dengan barang pindahan adalah barang-barang keperluan rumah tangga milik orang yang semula berdomisili di luar negeri, kemudi...





